Semua yang terjadi dalam hidup umat manusia merupakan takdir yang telah digariskan oleh Tuhan. Begitu juga yang terjadi dalam hidupku, semuanya telah dicatat dalam buku-Nya. Semua takdir tersebut, beberapa diantaranya dapat kita rubah menjadi sesuatu yang lebih baik. Tetapi, ada pula yang tidak perlu dirubah karena memang sudah baik.
Takdir yang terakhir inlah yang aku alami ketika masih kecil.
Saat itu, aku begitu kagum ketika melihat kakakku menulis. Aku begitu senang ketika melihat kakekku mengajari kakak menulis. Aku begitu ingin untuk menulis. Tetapi, saat itu masih terlalu kecil untuk bisa menulis. Aku membuat coretan di kertas disertai gambar dan aku menceritakan coretan itu sebagai sebuah tulisan cerita.
Kelas satu MI, keberhasilan menulis membuatku begitu bersemangat untuk terus menulis. Kenaikan kelas dua, aku diberi hadiah sebuah buku tebal untuk menulis. Ku isi dengan curahan imajinasi dalam bentuk cerita. Hal tersebut berlangsung secara continue hingga aku lulus MI. Sering pula ku pilah antara cerita bermutu dan tidak. “Kirimkan saja ceritamu ke sayembara ini,” ujar Abah. Ibu mendukungnya, keluargaku mendukungnya. Itulah awal aku bercita-cita menulis buku.
Orang tuaku, keluargaku, teman, dan guru yang dekat denganku, tetanggaku banyak yang mengatakan bahwa aku anak yang pandai. Sebenarnya itu hanyalah dampak kerajinanku menulis yang melahirkan kecintaan pada membaca.
Takdir inilah yang selama matahari tetap menjadi pusat tata surya akan terus menuntunku mewujudkan mimpi-mimpi menjadi seorang penulis.
0 komentar:
Poskan Komentar