Ibuku, Ummi Fadlillah, seorang wanita yang dengan ikhlas mengandungku selama sembilan bulan. Dan dengan mempertaruhkan nyawanya, beliau melahirkan aku di suatu pagi tanggal 25 Januari 1994. Ketika itu, menjelang pukul 03.30, buyutku dengan sabar mengurus ibu yang hendak melahirkan. Kakekku juga telah bersiap dengan memanggil bidan persalinan ke rumah. Dengan ditemani Kakek, Nenek, Buyut, dan mas Endin –yang saat itu masih berumur 2 tahun- ibuku menunggu detik-detik kelahiran bayi keduanya. Sedangkan Abah terpaksa tak bisa menyaksikan kejadian besar ini karena sedang ada pekerjaan. Tak lama kemudian, pukul 03.30 WIB, seorang bayi mungil yang masih berwarna kemerahan berhasil sampai di dunia. Kakekku segera mengumandangkan adzan di telinga kananku –bayi itu- dan saat itu, air mata meleleh di pipi ibu.
Berbulan-bulan, beliau mengurusku yang saat itu masih bayi. Menyuapi ketika aku makan, menyusuiku, menenangkanku saat menangis, hingga menina bobokan aku. Semua dilakukan dengan penuh cinta dan kasih sayang. Tak hanya itu, beliau jugalah yang pertama kali mengajariku berbicara, merangkak, hingga akhirnya aku bisa berjalan.
Lagi-lagi, dengan mempertaruhkan nyawa untuk yang ketiga kali, ibuku melahirkan adikku ketika aku berumur 2, 5 tahun. Harus mengurus tiga bayi, beliau memutuskan menitipkan kakakku yang berumur 4, 5 tahun kepada Kakek dan Nenek.
Tahun demi tahun telah dilewati, aku tumbuh menjadi balita yang nakal dan bandel. Tetapi ibuku dengan sayang menasihati agar aku bisa mengerti mana yang baik dan buruk. Beliau juga mulai mengajariku shalat dan mengaji dengan harapan agar aku dapat menjadi anak yang shaleh kelak. Ketika balita berumur 4, 5 tahun itu mulai mengenal dunia, beliau mengakjaknya ke sebuat tempat. Asing, karena baru pertama kali ia ke tempat di mana banyak sekali anak sebayanya yang sedang bermain. Rupanya, tempat ini adalah TK. Dan hari ini adalah hari pertamanya sekolah.
Setahun kemudian, ketika aku berumur 5, 5 tahun, aku juga dititipkan kepada Kakek dan Nenek karena adikku yang kedua lahir ke dunia. Di sana, aku bersekolah di Madrasah Ibtidaiyah. Meskipun aku ditipkan, namun jiwa kami selalu bersama, jiwa kasih sayang antara ibu dan anak.
Ibuku adalah wanita yang baik, beliau selalu menemani dan merawatku ketika sedang sakit. Aku masih ingat, ketika aku kelas 6 MI dan mengalami sakit maag yang cukup lama. Siang itu, aku baru saja pulang dari rumah sakit di Surabaya. Karena lelah, aku tidur di kasur tanpa selimut. Beliau yang melihatku, mengambilkan selimut dan menutupkan ke tubuhku yang kedinginan. Sambil membelai halus rambutku, beliau berbisik, “cepat sembuh ya, yang –nama panggilanku di rumah adalah Iyang-.” Saat itu, rasanya aku ingin mengangis, tapi ku tahan karena aku malu. Ibuku sangat sayang kepada keempat anaknya.
Kini, kami berempat telah tumbuh menjadi remaja dan anak yang serba ingin tahu. Kami semua telah banyak menyusahkan Ibu, membuat Ibu marah, dan membuat Ibu bersedih. Tapi, rasa sayangmu tak pernah berkurang pada kami berempat. Bahkan, aku rasakan semakin bertambah setiap harinya.
Maafkan kami bila kami sering berbuat salah, terimakasih atas cinta dan sayang yang selama ini Engkau berikan. Suatu saat, kami akan membalas semua, walaupun tak akan sebanding dengan kasih sayangmu pada kami. Tetapi, itu adalah bentuk rasa sayang dan terimakasih kami padamu. Karena tanpa Ibu dan Abah, kami berempat hanya seperti seorang pelaut yang berlayar tanpa kompas. Kami terombang-ambing di tengah laut tanpa arah dan tujuan. Berkat kalian berdualah, kami bisa seperti semut. Yang tak akan pernah terpisah dari kawanannya. Kami semua, cinta kami, bagaikan cinta semut.
Terimakasih Ibu atas semua yang telah Engkau beri… Selamat Hari Ibu, semoga hari ini dan seterusnya, bisa selalu menjadi hari-hari terbaik bagimu.
Artikel penuh cinta ini ditulis tanggal 16 Desember 2009 pukul 17.46 WIB
0 komentar:
Poskan Komentar