Ibuku, Ummi Fadlillah, seorang wanita yang dengan ikhlas mengandungku selama sembilan bulan. Dan dengan mempertaruhkan nyawanya, beliau melahirkan aku di suatu pagi tanggal 25 Januari 1994. Ketika itu, menjelang pukul 03.30, buyutku dengan sabar mengurus ibu yang hendak melahirkan. Kakekku juga telah bersiap dengan memanggil bidan persalinan ke rumah. Dengan ditemani Kakek, Nenek, Buyut, dan mas Endin –yang saat itu masih berumur 2 tahun- ibuku menunggu detik-detik kelahiran bayi keduanya. Sedangkan Abah terpaksa tak bisa menyaksikan kejadian besar ini karena sedang ada pekerjaan. Tak lama kemudian, pukul 03.30 WIB, seorang bayi mungil yang masih berwarna kemerahan berhasil sampai di dunia. Kakekku segera mengumandangkan adzan di telinga kananku –bayi itu- dan saat itu, air mata meleleh di pipi ibu.
Jangan menjadi pohon kaku yang mudah patah, jadilah bambu yang mampu bertahan melengkung melawan terpaan angin.
Rabu, 16 Desember 2009
Cinta Semut, Cintaku Pada Ibu
Ibuku, Ummi Fadlillah, seorang wanita yang dengan ikhlas mengandungku selama sembilan bulan. Dan dengan mempertaruhkan nyawanya, beliau melahirkan aku di suatu pagi tanggal 25 Januari 1994. Ketika itu, menjelang pukul 03.30, buyutku dengan sabar mengurus ibu yang hendak melahirkan. Kakekku juga telah bersiap dengan memanggil bidan persalinan ke rumah. Dengan ditemani Kakek, Nenek, Buyut, dan mas Endin –yang saat itu masih berumur 2 tahun- ibuku menunggu detik-detik kelahiran bayi keduanya. Sedangkan Abah terpaksa tak bisa menyaksikan kejadian besar ini karena sedang ada pekerjaan. Tak lama kemudian, pukul 03.30 WIB, seorang bayi mungil yang masih berwarna kemerahan berhasil sampai di dunia. Kakekku segera mengumandangkan adzan di telinga kananku –bayi itu- dan saat itu, air mata meleleh di pipi ibu.
Label:
Tugas ZZ
Sabtu, 05 Desember 2009
Catatan Penyemangat
Tubuhmu yang kokoh dan tinggi, berdiri tegak menjulang ke langit. Tatapanmu tetap garang, meskipun aku tahu kau sedang kesakitan. Dahan-dahanmu telah banyak yang terpotong. Batangmu kini telah diserang para benalu. Aku juga sama sepertimu, yang tengah merasakan sakit. Pohon, sakitku karena aku tengah terjatuh. Terjatuh di jalan menuju cita-cita. Banyak cobaan yang kini menghadangku. Apakah sakitku sama sepertimu?
Label:
Tugas ZZ
Langganan:
Entri (Atom)