Rabu, 25 November 2009

Tantangan Guru Dalam Masyarakat Modern

Melihat kenyataan saat ini, Modernisasi masyarakat tidak terelakkan lagi. Sukses pembangunan pemerintah yang lalu telah mengantarkan kita pada banyak perubahan masyarakat yang makin komplek. Sejumlah kemudahan hadir dihadapan kita untuk memanjakan manusia. Tetapi sejumlah problem baru juga muncul sebagai dampak dari pembangunan itu sendiri. Perubahan masyarakat tersebut akan menyentuh seluruh warga masyarakat, lebih-lebih profesi guru yang salah satu tugasnya mamang menjadi pembaharu (innovator) bagi masyarakatnya melalui transformasi nilai-nilai, ilmu pengetahuan dan teknologi.


Karena fungsi sebagai inovator itulah, maka guru tidak bisa tinggal diam membiarkan dirinya sekedar terbawa oleh arus modernisasi itu sendiri. Guru harus ada di dalamnya dan berperan mengarahkan dan memperkaya proses modernisasi dimasa depan, proses modernisasi tersebut akan semakin cepat dengan kandungan masalah yang makin konplek pula. Dengan adanya perubahahan yang cepat di bidang teknologi dan informasi maka perubahan tersebut pada akhirnya akan membawa perubahan dalam dunia pendidikan.

Dan akhirnya, kenajuan teknologi dan informasi akan menimbulkan tuntutan pada sekolah untuk meningkatkan jumlah dan bobot ilmu pengetahuan ilmiah yang disajikan kepada para siswa.

Tuntutan-tuntutan masyarakat sebagai akibat dari proses perubahan masyarakat dari tradisional ke modern, dari tertutup menjadi terbuka, dari feudal menjadi demolratis dan dari pasif manjadiaktif, tentulah maenjadi tantangan guru yang tidak ringan. Dan guru tidak bisa membiarkan tuntutan-tuntutan itu berlalu begitu saja karena akan menyebabkan eksitensi guru ditinggalkan masyarakatnya. Peran guru harus menjawabnya. Apakah jawaban itu?

Pertama, guru harus benar-benar menjadi pekerjaan professional, yakni hanya dimiliki oleh mereka yang benar-benar karena pangilan hati, dan diperoleh setelah melalui pendidikan khusus dengan capaian ilmu pendukung yang luas dan mendalam. Guru yang professional akan memiliki kemampuan bagaimana cara belajar (how to learn), untuk selanjutnya bisa mempraktikkan konsep pendidikan sepanjang hidup (long life education). Guru yang tidak mampu balajar sepanjang hayat akan tertinggal oleh kereta perubahan yang terus berlari cepat menembus ruang dan waktu.

Kedua, memiliki kemampuan untuk menyeleksi informasi, memahami dan menganalisis informasi, kemampuan mengembangkan informasi lebih lanjut, dan kemampuan untuk mengembangkan berbagai alternatif dan mengambil keputusan berdasarkan informasi terebut. Misalnya, mengembangkan model-model pengajaran untuk menjelaskan sesuatu yang baru bagi anak didik.

Ketiga, guru harus memiliki kemampuan menjadi model anak didik di tengah perubahan nilai dan norma yang begitu cepat. Ini bukan pekerjaan, karena guru pada dasarnya manusia yang juga tak lepas dari godaan yang datang dari berbagai arah. Dedikasi moral dan runtuhnya nilai-nilai social lingkungannya mau tak mau akan dirasakan oleh guru. Bukan berarti guru harus suci laksana malaikat, tetapi sebagai manusia sumber ia tetaplah harus tampil sebagai model ideal. Tanpa memiliki kinerja semacam itu, guru akan kehilangan kewibawaannya.

Keempat, guru harus memiliki kemampuan untuk memahami kehidupan anak didik sebagai individu ataupun sebagai kelompok. Sebagai individu, ia sebagai makhluk yang berbeda dengan makhluk lain, karenanya harus dilayani berdasarkan kemampuan-kemampuan dan minat yang dimiliki. Sedangkan sebagai anggota kelompok ia harus diajari bagaimana menyesuaikan diri dalam kehidupan sosial, berinteraksi dan berkomunikasi dengan indivisu lain yang berbeda latar belakang dan kemampuannya.

Kelima, guru harus memiliki kemandirian dan percaya diri. Ia harus bangga dengan jabatannya, bahwa profesi yang dimasuki adalah pilihan hidup, bukan sekedar kebetulan. Guru yang rendah diri (inferior) akan terasing dari lingkungannya. Ia tak mungkin mampu bekerja maksimal dan mengembangkan kemampuannya karena selalu dibebani oleh penyakit rendah diri, baik di hadapan siswa, orangtua murid, maupun masyarakat luas.

Keenam, guru harus memiliki wawasan pengetahuan umum yang luas. Harus diingat, bahwa guru kini bukan satu-satunya sumber informasi. Sekarang begitu banyak media massa, baik cetak maupun elektronik. Media massa ini kecuali berfungsi hiburan dan kontrol sosial, juga berfungsi education. Berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi bisa disebarkan oleh media massa ini. Guru yang tidak bergaul akrab dengan media massa akan tenggelam oleh arus informasi. Boleh jadi para siswa justru lebih tahu daripada gurunya karena sang siswa aktif bergumul dengan media massa.

Untuk ke sana, tentulah tidak bisa guru berjalan sendiri. Ia memerlukan dukungan sarana maupun prasarana. Hal yang paling mendesak sesungguhnya adalah tingkat kesejahteraan yang memadai. Adalah sulit merealisasikan guru yang professional jika penghasilan guru hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar. Sebab untuk memenuhi tuntutan profesi tadi, seorang guru harus membaca buku, membaca majalah, membaca koran, mendengarkan radio dan televise, studi tour ke lembaga-lembaga sumber pengetahuan dan sebagainya. Penghasilan yang memadai walaupun bukan jaminan sepenuhnya akan memungkinkan para guru memenuhi tugasnya sebagai guru professional dalam masyarakat modern.

Opini ditulis dengan pengarahan dan bimbingan Fatchan (kakek penulis blog), seorang pensiunan guru di Tuban.

Beberapa dicuplik dari majalah Mimbar Pembangunan Agama (MPA), terbitan Depag Surabaya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar